KERTA Group

Keindahan dan Keserasian Alam

Tuhan Menciptakan Keindahan. Dalam sebuah hadits disebutkan, ‘Allah itu indah, dan mencintai keindahan’. ’Sesungguhnya Alah itu bersih dan mencintai kebersihan’.

Keindahan dan Keserasian Alam

Sebuah "kecantikan yang ideal" adalah sebuah entitas yang dikagumi, atau memiliki fitur yang dikaitkan dengan keindahan dalam suatu budaya tertentu, untuk kesempurnaannya.

Keindahan dan Keserasian Alam

Aristoteles merumuskan keindahan sebagai sesuatu yang baik dan juga menyenangkan dengan meliputi keindahan seni, keindahan alam,keindahan moral dll.

Keindahan dan Keserasian Alam

Keindahan adalah sifat dan ciri dari orang, hewan, tempat, objek, atau gagasan yang memberikan pengalaman persepsi kesenangan, bermakna, atau kepuasan.

Lestarikan dan Budayakan Menanam Pohon

"Satu pohon memiliki sejuta manfaat bagi kelangsungan hidup berbagai makhluk hidup." Mari kita budayakan menanam pohon untuk kebaikan, keindahan dan keserasian alam.

Jumat, 03 Februari 2012

Hukum Merayakan Maulid Nabi SAW

 
Muhammad SAW

1. Perayaan Maulid Nabi SAW adalah ungkapan kegembiraan dan kebahagiaan dengan keberadaan Rasulullah SAW.
Dalam Q.S Yunus ayat 58, Allah swt memerintahkan kita untuk senang dan gembira dengan rahmat-Nya SWT :

(قُلْ بِفَضْلِ اللِّه وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَالِكَ فَلْيَفْرَحُوْا)

Dan Rasulullah SAW merupakan rahmat terbesar dari Allah SWT. Bukan hanya untuk kita, tapi juga untuk seluruh semesta alam. Firman Allah dalam Surat Al Anbiyaa ayat 107 :

(وَمَا أَرْسَلْنَاكَ اِلاَّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ)

2. Rasulullah SAW memperingati hari maulidnya dengan jalan puasa setiap hari senin sebagai tanda rasa syukur kepada Allah swt.
Dalam Kitab Shahih Muslim diriwayatkan hadits Abi Qutadah ra bahwasanya Rasulullah pernah ditanya tentang puasa hari senin,Beliau SAW menjawab :

(ذَلِكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيْهِ , وَيَوْمٌ بُعِثْتُ , أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيْهِ )

3. Kegembiraan dengan kelahiran Rasulullah saw memiliki manfaat khusus bagi setiap muslim.
Dalam Shahih Bukhari diceritakan tentang sebuah kisah mimpi Sayyidina Abbas ra, paman Rasulullah SAW, tentang peringanan azab atas Abu Lahab setiap hari senin, karena dia di masa hidupnya pernah gembira menyambut kelahiran keponakannya, Muhammad ibnu Abdillah, dengan memerdekakan budaknya yang bernama Tsuwaibah Al Aslamiyyah. Karenanya Al Hafidz Syamsuddin Muhammad bin Nashiruddin Ad Dimasyqi rhm membuat syair :

اِذَا كَانَ هَذَا كَافِرًا جَآءَ ذَمُّهُ بِتَبَّتْ يَدَاهُ فىِ اْلجَحِيْمِ مُخَلَّدَا
اَتَى أَنَّهُ فيِ يَوْمِ اْلأِثْنَيْنِ دَائِمًا يُخَفَّفُ عَنْهُ لِلسُّرُوْرِ بِأَحْمَدَ
فَمَا الظَّنُّ بِاْلعَبْدِ اَلَّذِى كَانَ عُمْرُهُ بِأَحْمَدَ مَسْرُوْرًا وَ مَاتَ مُوَحِّدَا

4. Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah media da’wah untuk memaparkan kembali sejarah kehidupan dan perjuangan Rasulullah SAW, mendorong umat Islam agar Cinta Rasulullah dan mau meneladaninya, sekaligus membiasakan umat bershalawat untuk Rasulullah SAW, sehingga menjadi peneguh hati kaum muslimin. Dalam Surat Hud ayat 120 Allah swt memberitakan dan menjelaskan bahwasanya kisah para Rasul dalam Al Qur’an untuk meneguhkan hati Rasulullah SAW.Firmannya :

(وَكُلاًّ نَقُصَّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبآءِ الرُّسُلِ مَانُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ )

5. Perayaan Maulid Nabi SAW adalah upaya menghidupkan napak tilas Perjuangan Rasulullah saw.
Menghidupkan kenangan perjuangan orang-orang saleh adalah sesuatu yang disyariatkan dalam Islam.Lihatlah berbagai perbuatan ibadah dalam manasik haji merupakan napak tilas dari berbagai peristiwa religius bersejarah dalam kehidupan Nabi Ibrahim as dan Siti Hajar serta putra mereka Nabi Ismail as.

6. Rasulullah saw menyukai dan memuji orang lain yang mencintai dan yang memuji beliau saw.
Rasulullah saw memuji dan membalas dengan berbagai kebaikan hubungan dengan para penyair di zamannya yang membuat syair-syair yang memuji kehidupan dan perjuangan Rasulullah saw, seperti sayyidina Hasan bin Tsabit ra.Maka bias dipastikan bahwasanya Rasulullah saw akan sangan ridha dan menyukai mereka yang menghimpun dan menyebarluaskan sejarah kehidupan dan perjuangan Rasulullah saw, seperti yang dilakukan para Ulama melalui kitab-kitab Maulid yang dibaca saat perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.

7. Rasulullah saw memiliki perhatian dan kepedulian terhadap hubungan antara tempat dengan peristiwa Religius bersejarah, bahkan beliau saw ikut membesarkannya.
Dalam hadits Syaddaad bin Aus ra yang diriwayatkan oleh Al Bazzar, Abu Ya’la dan Ath Thabarani, bahwasanya ketika Rasulullah saw melakukan Isra dan Mi’raj, beliau diajak mampir oleh Jibril as ke Baitullaham dan shalat dua rakaat di sana, lalu Jibril as bertanya apakah Rasulullah saw tahu tempat apa itu, beliau pun menjawab tidak tahu.Maka Jibril as memberitahukannya bahwa itu adalah tempat kelahiran Nabi Isa as.

8. Rasulullah saw memiliki perhatian dan kepedulian terhadap hubungan antara zaman dengan peristiwa religius bersejarah, bahkan beliau ikut membesarkannya. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim diceritakan bahwa tatkala Rasulullah saw mendapatkan kaum Yahudi berpuasa dan bergembira pada Hari Asyura (10 Muharram) untuk merayakan kemenangan Nabi Musa as atas Fir’aun, maka beliau bersabda :

(نَحْنُ أَوْلىَ بِمُوْسَى مِنْكُمْ )

beliau pun berpuasa di hari itu dan menganjurkan umatnya agar berpuasa Asyura.
Selain itu masih ada hadits lain dimana Rasulullah saw menyebutkan keistimewaan Hari Jum’at sebagai hari penciptaan Nabi Adam as dan juga hari kelahiran para Nabi dan Rasul selain beliau saw. Semua itu sesuai dengan tuntunan Al Qur’an yang mengabarkan tentang limpahan kesejahteraan bagi hari kelahiran para Nabi.Dalam Surat Maryam ayat 15 tentang Nabi Yahya as:

وَسَلاَمٌ عَلَيْهَ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوْتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيَّا

dan ayat 33 tentang Nabi Isa as

وَالسَّلاَمُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوْتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيَّا

9. Para ulama terkemuka yang terkenal istiqamah dari zaman ke zaman dan dari berbagai madzhab serta dari berbagai negeri telah menjadikan Peringatan Maulid Nabi saw sebagai sesutau yang Mustahsan, yaitu sesuatu yang dipandang baik.
Nabi saw menjamin umatnya tidak akan sepakat dalam kesesatan

 لَنْ تَجْتَمِعَ أُمَّتِيْ عَلىَ الضَّلاَلَةِ

Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin, apalagi para ulamanya maka ia baik.Dalam Musnad Imam Ahmad sebuah hadits Mauquf dari Abdullah bin Mas’ud ra berbunyi :

مَا رَآهُ اْلمُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَاللهِ حَسَنٌ, وَمَا رَآهُ اْلمُسْلِمُوْنَ قَبِيْحًا فَهُوَ عِنْدَاللهِ قَبِيْحٌ

10. Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw secara eksplisit dalam bentuk perayaan, memang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW, tapi bukan berarti sebagai bid’ah Dholalah melainkan sebagai bid’ah Hasanah.
Para sahabat ra pernah melakukan apa yang tidak pernah dilakukan Rasulullah SAW:
a)Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar ra menghimpun Al Qur’an dan membuat Mushafnya
b)Sayyidina Abu Bakar memerangi orang yang tidak mau membayar zakat.Padahal pada zaman Rasul saw, ketika Tsa’labah tidak mau membayar zakat, nabi tidak memeranginya.
c)Sayyidina Utsman memperbanyak Mushaf Al Qur’an dan mengirimnya ke berbagai wilayah
d)Sayyidina Umar ra menghimpun kaum Muslimin di bawah satu Imam Shalat Tarawih, dan beliau berkata :

نِعْمَتِ اْلِبدْعَةِ هَذِهِ“ Inilah sebaik-baiknya Bid’ah “

Dalil Maulid

Dalil-Dalil Peringatan Maulid Nabi SAW

Yang pertama merayakan Maulid Nabi SAW adalah shahibul Maulid sendiri, yaitu Nabi SAW, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan Muslim bahwa, ketika ditanya mengapa berpuasa di hari Senin, beliau menjawab, “Itu adalah hari kelahiranku.” Ini nash yang paling nyata yang menunjukkan bahwa memperingati Maulid Nabi adalah sesuatu yang dibolehkan syara’.

Banyak dalil yang bisa kita jadikan sebagai dasar untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Pertama, peringatan Maulid Nabi SAW adalah ungkapan kegembiraan dan kesenangan dengan beliau. Bahkan orang kafir saja mendapatkan manfaat dengan kegembiraan itu (Ketika Tsuwaibah, budak perempuan Abu Lahab, paman Nabi, menyampaikan berita gembira tentang kelahiran sang Cahaya Alam Semesta itu, Abu Lahab pun memerdekakannya. Sebagai tanda suka cita. Dan karena kegembiraannya, kelak di alam baqa’ siksa atas dirinya diringankan setiap hari Senin tiba. Demikianlah rahmat Allah terhadap siapa pun yang bergembira atas kelahiran Nabi, termasuk juga terhadap orang kafir sekalipun. Maka jika kepada seorang yang kafir pun Allah merahmati, karena
kegembiraannya atas kelahiran sang Nabi, bagaimanakah kiranya anugerah Allah bagi umatnya, yang iman selalu ada di hatinya? — Red.al-Kisah)

Kedua, beliau sendiri mengagungkan hari kelahirannya dan bersyukur kepada Allah pada hari itu atas nikmat-Nya yang terbesar kepadanya.

Ketiga, gembira dengan Rasulullah SAW adalah perintah Al-Quran. Allah SWT berfirman, “Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira’.” (QS Yunus: 58).

Jadi, Allah SWT menyuruh kita untuk bergembira dengan rahmat-Nya, sedangkan Nabi SAW merupakan rahmat yang terbesar, sebagaimana tersebut dalam Al-Quran, “Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” (QS Al-Anbiya’: 107).

Keempat, Nabi SAW memperhatikan kaitan antara waktu dan kejadian-kejadian keagamaan yang besar yang telah lewat. Apabila datang waktu ketika peristiwa itu terjadi, itu merupakan kesempatan untuk mengingatnya dan mengagungkan harinya.

Kelima, peringatan Maulid Nabi SAW mendorong orang untuk membaca shalawat, dan shalawat itu diperintahkan oleh Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam sejahtera kepadanya.” (QS Al-Ahzab: 56).

Apa saja yang mendorong orang untuk melakukan sesuatu yang dituntut oleh syara’, berarti hal itu juga dituntut oleh syara’. Berapa banyak manfaat dan anugerah yang diperoleh dengan membacakan salam kepadanya.

Keenam, dalam peringatan Maulid disebut tentang kelahiran beliau, mukjizat-mukjizatnya, sirahnya, dan pengenalan tentang pribadi beliau. Bukankah kita diperintahkan untuk mengenalnya serta dituntut untuk meneladaninya, mengikuti perbuatannya, dan mengimani mukjizatnya. Kitab-kitab Maulid menyampaikan semuanya dengan lengkap.

Ketujuh, peringatan Maulid merupakan ungkapan membalas jasa beliau dengan menunaikan sebagian kewajiban kita kepada beliau dengan menjelaskan sifat-sifatnya yang sempurna dan akhlaqnya yang utama.

Dulu, di masa Nabi, para penyair datang kepada beliau melantunkan qashidah-qashidah yang memujinya. Nabi ridha (senang) dengan apa yang mereka lakukan dan memberikan balasan kepada mereka dengan kebaikan-kebaikan. Jika beliau ridha dengan orang yang memujinya, bagaimana beliau tidak ridha dengan orang yang mengumpulkan keterangan tentang perangai-perangai beliau yang mulia. Hal itu juga mendekatkan diri kita kepada beliau, yakni dengan manarik kecintaannya dan keridhaannya.

Kedelapan, mengenal perangai beliau, mukjizat-mukjizatnya, dan irhash-nya (kejadian-kejadian luar biasa yang Allah berikan pada diri seorang rasul sebelum diangkat menjadi rasul), menimbulkan iman yang sempurna kepadanya dan menambah kecintaan terhadapnya.

Manusia itu diciptakan menyukai hal-hal yang indah, baik fisik (tubuh) maupun akhlaq, ilmu maupun amal, keadaan maupun keyakinan. Dalam hal ini tidak ada yang lebih indah, lebih sempurna, dan lebih utama dibandingkan akhlaq dan perangai Nabi. Menambah kecintaan dan menyempurnakan iman adalah dua hal yang dituntut oleh syara’. Maka, apa saja yang memunculkannya juga merupakan tuntutan agama.

Kesembilan, mengagungkan Nabi SAW itu disyariatkan. Dan bahagia dengan hari kelahiran beliau dengan menampakkan kegembiraan, membuat jamuan, berkumpul untuk pengingat beliau, serta memuliakan orang-orang fakir, adalah tampilan pengagungan, kegembiraan, dan rasa syukur yang paling nyata.

Kesepuluh, dalam ucapan Nabi SAW tentang keutamaan hari Jum’at, disebutkan bahwa salah satu di antaranya adalah, “Pada hari itu Adam diciptakan.” Hal itu menunjukkan dimuliakan-nya waktu ketika seorang nabi dilahirkan. Maka bagaimana dengan hari dilahirkannya nabi yang paling utama dan rasul yang paling mulia?

Kesebelas, peringatan Maulid adalah perkara yang dipandang bagus oleh para ulama dan kaum muslimin di semua negeri dan telah dilakukan di semua tempat. Karena itu, ia dituntut oleh syara’, berdasarkan qaidah yang diambil dari hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud, “Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin, ia pun baik di sisi Allah; dan apa yang dipandang buruk oleh kaum muslimin, ia pun buruk di sisi Allah.”

Kedua belas, dalam peringatan Maulid tercakup berkumpulnya umat, dzikir, sedekah, dan pengagungan kepada Nabi SAW. Semua itu hal-hal yang dituntut oleh syara’ dan terpuji.

Ketiga belas, Allah SWT berfirman, “Dan semua kisah dari rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu, yang dengannya Kami teguhkan hatimu.” (QS Hud: 120). Dari ayat ini nyatalah bahwa hikmah dikisahkannya para rasul adalah untuk meneguhkan hati Nabi. Tidak diragukan lagi bahwa saat ini kita pun butuh untuk meneguhkan hati kita dengan berita-berita tentang beliau, lebih dari kebutuhan beliau akan kisah para nabi sebelumnya.

Keempat belas, tidak semua yang tidak pernah dilakukan para salaf dan tidak ada di awal Islam berarti bid’ah yang munkar dan buruk, yang haram untuk dilakukan dan wajib untuk ditentang. Melainkan apa yang “baru” itu (yang belum pernah dilakukan) harus dinilai berdasarkan dalil-dalil syara’.

Kelima belas, tidak semua bid’ah itu diharamkan. Jika haram, niscaya haramlah pengumpulan Al-Quran, yang dilakukan Abu Bakar, Umur, dan Zaid, dan penulisannya di mushaf-mushaf karena khawatir hilang dengan wafatnya para sahabat yang hafal Al-Quran. Haram pula apa yang dilakukan Umar ketika mengumpulkan orang untuk mengikuti seorang imam ketika melakukan shalat Tarawih, padahal ia mengatakan, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.” Banyak lagi perbuatan baik yang sangat dibutuhkan umat akan dikatakan bid’ah yang haram apabila semua bid’ah itu diharamkan.

Keenam belas, peringatan Maulid Nabi, meskipun tidak ada di zaman Rasulullah SAW, sehingga merupakan bid’ah, adalah bid’ah hasanah (bid’ah yang baik), karena ia tercakup di dalam dalil-dalil syara’ dan kaidah-kaidah kulliyyah (yang bersifat global).

Jadi, peringatan Maulid itu bid’ah jika kita hanya memandang bentuknya, bukan perincian-perincian amalan yang terdapat di dalamnya (sebagaimana terdapat dalam dalil kedua belas), karena amalan-amalan itu juga ada di masa Nabi.

Ketujuh belas, semua yang tidak ada pada awal masa Islam dalam bentuknya tetapi perincian-perincinan amalnya ada, juga dituntut oleh syara’. Karena apa yang tersusun dari hal-hal yang berasal dari syara’, pun dituntut oleh syara’.

Kedelapan belas, Imam Asy-Syafi’i mengatakan, “Apa-apa yang baru (yang belum ada atau dilakukan di masa Nabi SAW) dan bertentangan dengan Kitabullah, sunnah, ijmak, atau sumber lain yang dijadikan pegangan, adalah bid’ah yang sesat. Adapun suatu kebaikan yang baru dan tidak bertentangan dengan yang tersebut itu, adalah terpuji.”

Kesembilan belas, setiap kebaikan yang tercakup dalam dalil-dalil syar’i dan tidak dimaksudkan untuk menyalahi syariat dan tidak pula mengandung suatu kemungkaran, itu termasuk ajaran agama.

Kedua puluh, memperingati Maulid Nabi SAW berarti menghidupkan ingatan (kenangan) tentang Rasulullah, dan itu menurut kita disyariatkan dalam Islam. Sebagaimana yang Anda lihat, sebagian besar amaliah haji pun menghidupkan ingatan tentang peristiwa-peristiwa terpuji yang telah lalu.

Kedua puluh satu, semua yang disebutkan sebelumnya tentang dibolehkannya secara syariat peringatan Maulid Nabi SAW hanyalah pada peringatan-peringatan yang tidak disertai perbuatan-perbuatan mungkar yang tercela, yang wajib ditentang.

Adapun jika peringatan Maulid mengandung hal-hal yang disertai sesuatu yang wajib diingkari, seperti bercampurnya laki-laki dan perempuan, dilakukannya perbuatan-perbuatan yang terlarang, dan banyaknya pemborosan dan perbuatan-perbuatan lain yang tak diridhai shahthul Maulid, tak diragukan lagi bahwa itu diharamkan. Tetapi keharamannya itu bukan pada peringatan Maulidnya itu sendiri, melainkan pada hal-hal yang terlarang tersebut. [infokito]

Wallahu a’lam

Wabillahi taufik wal hidayah

***Disarikan dari majalah al-Kisah

GLOSSARY:
Sayyid Prof. Dr. Muhammad ibn Sayyid ‘Alawi ibn Sayyid ‘Abbas ibn Sayyid ‘Abdul ‘Aziz al-Maliki al-Hasani al-Makki al-Asy’ari asy-Syadzili lahir di Makkah pada tahun 1365 H. Ayah beliau, Sayyid Alwi bin Abbas Almaliki (kelahiran Makkah th 1328H), seorang alim ulama terkenal dan ternama di kota Makkah. Disamping aktif dalam berdawah baik di Masjidil Haram atau di kota kota lainnya yang berdekatan dengan kota Makkah seperti Thoif, Jeddah.
Tidak kurang dari 100 buku yang telah dikarangnya, semuanya beredar di seluruh dunia. Tidak sedikit dari kitab-kitab beliau yang beredar telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Prancis, Urdu, Indonesia dan lain-lain.
Beliau wafat hari jumat tanggal 15 Ramadhan 1425 H (2004 M) dan dimakamkan di pemakaman Al-Ma’la disamping makam istri Rasulullah SAW. Khadijah binti Khuailid Ra. dengan meninggalkan 6 putra, Ahmad, Abdullah, Alawi, Ali, al-Hasan dan al-Husen dan beberapa putri-putri.

Kewajiban untuk Meningkatkan Kecintaan dan Penghormatan buat Rasulullah (s.a.w)

Allah telah berfirman kepada Rasulullah (s.a.w) untuk mengingatkan ummatnya yang mengakui mencintai Allah, untuk mencintai NabiNya dan katakanlah kepada mereka,"Jika kamu mencintai Allah, ikutlah (dan cintai dan hormati) aku, dan Allah akan mencintai kamu" (3:31) Sambutan Maulidurrasul (s.a.w) merupakan natijah atau kesan akan adanya perasaan kecintaan terhadap Rasulullah (s.a.w), perasaan taat kepada baginda, sentiasa mengingati baginda, mencontohi baginda dan berbangga dengan baginda sebagaimana Allah bangga terhadap baginda kerana Allah memuji akan baginda didalam Al-Quran, "Sesungguhnya engkau mempunyai akhlaq yang mulia" (al-Qalam:4) Tahap kecintaan kepada Rasulullah (s.a.w), merupakan antara pengukur kepada tahap kesempurnaan keimanan antara seseorang mukmin dan seorang mukmin yang lain. Dalam sebuah hadith sahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah (s.a.w) telah bersabda,"Tidak sempurna iman kamu sehingga aku lebih dicintainya daripada anak, ibu bapa dan manusia seluruhnya." Dalam sebuah hadith lain yang diriwayatkan oleh Bukhari Rasulullah (s.a.w) berfirman,"Tidak sempurna iman kamu sehingga aku kamu lebih cintai daripada diri kamu sendiri." Dan Sayyidina 'Umar berkata,"Ya Rasulullah aku mencintaimu lebih daripada diriku sendiri. Kesempurnaan iman seseorang itu amat bergantung pada kecintaannya terhadap Rasulullah (s.a.w) dan para Malaikat sentiasa memuji baginda sebagaimana yang dimaksudkan didalam ayat al-Quran yang berbunyi, "Sesungguhnya Allah dan para Malaikat sentiasa bersalawat keatas Nabi" (33:56). Seterusnya ayat ini disambung dengan perintah Tuhan,"Wahai orang-orang yang beriman berselawatlah kamu keatasnya". Ayat ini sahaja menjadi bukti bahawa kualiti iman seseorang itu bergantung kepada dan dizahirkan melalui selawat kepada Nabi (s.a.w). Ya Allah! Limpahkanlah selawat serta salam kepada Nabi, ahli keluarga baginda dan para sahabat.

Sabtu, 24 Desember 2011

STATUS MALAM


Oleh : Hamba Allah yang telah berbagi akan pentingnya rasa ikhlas dan syukur .

Tepat di hari kamis 15 Desember 2011, seorang gadis dhoif nan fakir merasa tidak puas dengan nilai tes lisan UAS nya. Padahal si gadis telah berusaha keras untuk menjawab ujian yang di beri sang dosen.
Singkat cerita, gadis tersebut mengeluh dan menangis karena dia merasa hasil yang dia dapat tidak sesuai dengan usaha yang dia lakukan sebelumnya.
Dengan izin Allah, seseorang datang untuk memberi motivasi dan masukkan yang sangat berharga bagi sang gadis.

Beliau memberi nasihat seperti ini :

"Apa yang menjadikan kita tidak segera mendapatkan ganti adalah karena kita belum mengikhlaskan apa yang akan digantikan"

Memang susah sekali ya untuk belajar ikhlas dan mensyukuri?

Padahal, Allah telah berfirman :
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan berikan baginya jalan keluar dan akan memberikan rezeki kepadanya dari jalan yang tidak disangka-sangka. Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah maka Allah pasti mencukupinya.”
(QS. at-Thalaq: 2-3)

Masya Allah **

Semoga bermanfaat.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites